TRADISI YANG HARUS DITINGGALKAN: NYEKAR (ZIARAH KUBUR MENJELANG RAMADHAN)


Ramadhan bagi sebagian orang tidak sekedar bermakna bulan yang penuh barokah, tetapi juga disambut dengan berbagai kebiasaan atau tradisi yang kadang-kala justru bertentangan dengan Islam atau tidak ada tuntunannya dalam Islam.
Semakin mendekati Ramadhan, lebih-lebih satu atau dua hari menjelang 1 Ramadhan, ada lagi tradisi yang bernama nyekar, yaitu prosesi menabur bunga di atas makam orang tua atau kerabat yang sudah meninggal, kemudian dilanjutkan dengan membacakan serangkaian do’a.
Nyekar itu berasal dari kata sekar, artinya bunga. Jadi nyekar artinya menaruh bunga, dan kenyataannya adalah di kuburan. Entah itu dari mana asal ajarannya, yang jelas tidak ada tuntunannya dalam Islam.
Sedang dikhususkannya hari-hari menjelang Ramadhan untuk nyekar (maksudnya datang ke kuburan dengan menaruh bunga), itu juga tidak ada dalilnya. Karena ziarah kubur itu untuk kapan saja, agar mengingat mati dan akhirat, serta mendo'akan si mayit yang Muslim. Dan itu disunnahkan bagi laki-laki, sedangkan untuk perempuan, ada khilaf di antara ulama karena ada hadits yang menyebutkan:
قَالَ عليه الصلاة والسلام : { لَعَنْ اللَّهُ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ , وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ , وَالسُّرُجَ } أَخْرَجَهُ أَبُو داود فِي سُنَنِهِ , وَالتِّرْمِذِيُّ , وَالنَّسَائِيُّ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Allah melaknat wanita-wanita peziarah kubur, dan yang menjadikan masjid-masjid di atas kubur, (dan yang menjadikan) lampu-lampu (di atas kubur).” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasaai).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan ada 5 pendapat ulama dalam masalah ini (wanita ziarah kubur):
1. Disunnahkan seperti laki-laki
2. Makruh
3. Mubah
4. Haram
5. Dosa besar. [Lihat Asy Syarhul Mumti (5/380)]
Ringkasnya, menurut pendapat yang paling kuat, wanita juga dibolehkan ziarah kubur asal tidak sering-sering.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan wanita-wanita peziarah kubur adalah wanita-wanita yang sering ziarah kubur.
Ziarah kubur boleh dilakukan tetapi sekali-sekali saja dan tidak mengkhususkannya pada hari-hari tertentu atau ketika menjelang Ramadhan saja.
Kalau mau ziarah kubur, kenapa harus menunggu menjelang Ramadhan? Kalau perbuatan itu termasuk kebaikan, niscaya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat radhiyallahu 'anhum sudah lebih dulu melakukannya. Merekalah orang-orang yang PALING TAHU apa yang baik menurut agama ini (Islam).
لَوْكَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إلَيْه
(Seandainya perbuatan itu baik, niscaya mereka telah mendahului kita melakukannya)

Surat terbuka untuk calon presiden dan wakil presiden



Kepada bapak-bapak yang saya hormat, 



Assalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh



Semoga bapak-bapak semua selalu dalam lindungan Alloh, dan semoga bapak-bapak di beri kesahatan dan kekuatan untuk dapat memikul beban Negara ini jika nanti terpilih. 

Sesuai hasil dari KPU, bapak-bapak memang pantas untuk menempati posisi presiden dan wakil presiden. 

Tapi untuk sampai ke tahap itu, janganlah sampai bapak-bapak membuat janji yang tidak bisa ditepati, berjanjilah untuk hal-hal sederhana, berjanjilah untuk amanah atas jabatan yang bapak-bapak peroleh. 

Jangan bapak Tanya kepada Saya apa yang Saya inginkan untuk Negara ini, karna saya yakin bapak-bapak lebih paham soal itu. 

Saya yang akan menjadi rakyat bapak-bapak nanti, miris melihat, membaca apa yang telah di tulis dan dibuat oleh tim sukses dan penggemar bapak-bapak, kenapa mereka saling menjelekkan, kenapa mereka saling menjatuhkan dan melemahkan, bukankah kita ingin Negara ini menjadi lebih baik, bukankah kita tidak ingin Negara ini terpecah hanya karena siapa yang berhak menjadi presiden dan wakilnya, bukankah kalau kita mati, jabatan itu tidak akan menolong kita 1 detik pun dari kematian. 

Nanti, Saat pemilu berlangsung, saya akan berusaha datang ke TPS, saya akan berusaha bersikap adil dengan memilih no 1 dan 2, karena bapak-bapak adalah putra terbaik bangsa, yang ingin menjadikan Negara ini lebih baik, kalau bisa, keinginan bapak-bapak berbuat untuk Indonesia ini di gabungkan, pasti lebih keren..... lalu siapa yang akan menjalankan? Pastinya diantara no 1 dan 2. 

Tapi siapapun yang terpilih, saya tetap menggantungkan harapan saya kepada Alloh, karena Cuma Dia yang tidak akan mengingkari janji, Cuma Dia yang maha membolak-balikkan hati, dan Cuma Dia yang tahu apa yang terbaik buat hambanya yang beriman dan beramal shaleh dengan ilmu Alquran dan Assunnah.

MENANTI DOA TERKABUL

Allah, telah mengabulkan semua doaku, walaupun dengan doa yang aku sendiri merasa tidak sungguh-sungguh. Hanya setelah selesai shalat fardu.
Aku telah mendapatkan 1 orang bidadari di Dunia yaitu istriku, dan 1 orang peri kecil Ukhti.
Rasanya Allah sudah memberikan semua. Udara yang tidak akan tergantikan. Kesehatan yang di berikannya yang tidak akan bisa di tandingin dengan uang setumpuk, dan masih banyak yang bila di jabarkan disini bisa beratus-ratus lembar.
Tapi ada yang masih mengganjal, rasanya sesak di perut, dan ternyata setelah diselidiki. Lemak di perut udah nambah aja. Terbukti dengan ikat pinggang yang semula saat beli ikat pinggang masih tersisa 1 lubang, tapi sekarang sudah terlihat 2 lubang yang tersisa.

Sekarang mulai lagi bertambah do’a ku di setiap selesai shalat,

“Allah, Turunkan berat badanku. Tapi aku ga ingin Engkau mengabulkan dengan sakit. Karena sakit akan mengganggu aktifitasku yang lain, Karena ku rasakan Nikmat sakit terasa ga nyaman, semua rutinitas jadi terganggu, walau dengan sakit itu Engkau memberi tahuku, bahwa itulah saatnya aku mensyukuri nikmat sehat”.

Sudah ada planning buat beli sepeda, ke kantor pake sepeda pikirku, bisa juga buat nurunin berat badan, rasanya seperti ini lah yang ku inginkan dalam bila do’ku.

Dan, aku merasa do’a ku tentang berat badan belum terkabul, sekarang dengan kekuasaanmu Engkau memberikan cobaan yang lain, motor ku yang menemani aktifitasku akhir-akhir ini jadi sering mogok, terpaksa harus mendorong, terganggu lagi aktifitasku, akhirnya nambah lagi aktifitas “mendorong motor”.

“Ya Allah, sekarang aku tahu maksudmu, Engkau telah mengabulkan Do’a ku  untuk ngurangin berat  badanku, “Mendorong Motor” udah jelas menguras tenaga, dan bakal membakar lemak tubuh, ini lah cara Engkau mengabulkan do’a ku. Astagfirullah, Maafkan aku ya Allah karena telah berburuk sangka padaMu, Engkau telah memberi apa yang aku minta dengan cara Mu, karena Engkau yang maha tahu apa yang terbaik untukku”

“Allah, tetapkan dalam hatiku untuk selalu Ingat padaMu, untuk selalu beserah diri padaMu, untuk menyandarkan segala sesuatu padaMu, untuk meminta apapun kepadaMu, apapun. Maafkan Aku. Astagfirullah.

“Allah akan mengabulkan do’a kita disaat kita siap, teruslah berdo’a kepada Allah, Walaupun do’a untuk mengembalikan pena yang hilang, jodoh yang tak kunjung datang, Keturunan, menghilangkan rasa lelah di pundak, batrai Hp udah low, sinyak ga ada, pulsa ga punya, bahkan hal yang paling kecil sekalipun yang kita anggap kita bisa lalukan sendiri, minta semua pada Allah, karena hanya pada Allah kita bergantung, Allah akan mengabulkan permintaan kita saat kita siap.

TENTANG CINTA

Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi  ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi
lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita
nikmati dengan cinta.

Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi  terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya  terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta  kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malaikat aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali  mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

KAMU CANTIK KALAU MARAH

Buat yang udah nikah, yang mau nikah atau yang punya niat untuk nikah.
Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri atau ia tengah berdusta.
Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar.
Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.
Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.

Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : "Kamu makin cantik kalau marah, makin energik..." Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "Duh kekasih... bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka," saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya:) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.
Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan,bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan
tiga hari lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya
tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga!

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal cinta yang panas ini".
Kata ayah saya: "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak."
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya daripada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak anak!

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita.
Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar (based on true story):
Ibu: "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu?!!!"
Bapak: "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!!
Anak: "Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya ini apa?"
Kita harus berani berkata: "Hentikan pertengkaran!" ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!

Pada setiap tahiyyat kita berkata: "Assalaa-mu'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas
kami, demikian juga atas hamba hambamu yang sholeh.... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....???
Hmmmm....... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar ... :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan

Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran (resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah "proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa'at. "Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi". Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.