Jalan ke surga hanyalah jalan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Maka jangan sampai salah jalan.

Ketika kita sedang dijalanan mungkin kita akan jumpa seorang perempuan mengenakan rok mini, kain yang menutupi bagian pahanya sejengkal diatas lutut, jelas berpakaian seperti ini terlarang secara syariat, apa yang dilakukannya mendatangkan syahwat, dan yang pasti adalah dosa mengumbar aurat didepan khalayak, dilihat banyak pasang mata lelaki yang bukan mahramnya,  tetapi yakinlah bahwa jika wanita itu ditanya "apakah anda mau masuk surga?", pastilah wanita itu menjawab dengan lugas ," iya!, saya mau masuk surga".
Seorang lelaki yang tiap malam "jajan" di sebuah lokalisasi, berzina dengan berganti-ganti wanita dan minum minuman keras tiap malam, telah banyak dosa yang dia telah perbuat, namun ketika ditanya "apakah anda mau masuk surga?", niscaya dia akan menjawab dengan tegas, " iya!, saya ingin masuk surga".
Seorang pejabat yang dirasuki syahwat ingin mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara selagi dia masih punya jabatan termasuk dengan jalan korupsi, mengorbankan kepentingan banyak orang asal dirinya mendapat keuntungan, hal itu mendatangkan dosa baginya karena telah berbuat dzalim dan tidak bersikap amanah atas tanggung jawab yang diembankan pada dirinya, namun ketika di tanya "apakah anda mau masuk surga?", niscaya dia akan menjawab, " iyak!, saya ingin masuk surga".

Ketahuilah bahwa mereka dengan segala perbuatan  dosanya namun sangat menginginkan surga adalah orang yang telah tertipu bisikan iblis. Apa yang dikerjakannya dengan keinginannya masuk surga tidak ada kesesuaian, ia ingin masuk surga namun jalan yang ditempuhnya sedang mengarah ke neraka. Ibarat ada seseorang berencana pergi ke Bukittinggi namun ketika dipersimpangan jalan, ada penunjuk arah kekanan ke Pekanbaru dan jalan kekiri ke Bukittinggi, justru dia ambil jalan ke kanan, ketika di perjalanan ditanya oleh orang lain,"anda mau pergi kemana?," lalu dia menjawab "saya akan pergi ke Bukittinggi", padahal dia sedang berjalan menuju ke Pekanbaru, artinya keinginan dengan perbuatan yang dilakukannya tidak sesuai.
Ketahuilah jika anda ingin menuju ke surga maka ikuti jalan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, karena hanya beliaulah yang paling tau jalan ke surga, sementara jalan-jalan yang menyelisihi adalah jalan kesesatan.
Waallahua'lam.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ (مُتَفَرِّقَةٌ) لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153]( Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah oleh Imam al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam as-Sunnah libni Abi Ashim (no. 17), Tafsir an-Nasaa’i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435).)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahan-nam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisaa’: 115]

Dikutip dari

Ustadz Maududi Abdullah Lc.,
 Referensi dr Al manhaj.Com

# Islam Akan Kembali Asing, Tetapi Tidak Juga Sengaja Terlihat Asing dan Mengasingkan Diri

Mungkin ada yang salah paham dengan hadits bahwa Islam kelak akan terlihat kembali asing sebagaimana awalnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Memang benar di akhirnya nanti akan kembali asing, karena sunnah dan ajaran Islam yang mulai terkikis dan tidak terbiasa di masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dari penjelasan Al-Qadhi Iyadh[1]

Akan tetapi bukan berarti kita sengaja terlihat asing dan megasingkan diri, sehingga kita terlihat menjauh dari masyarakat dan bisa jadi orang yang belum paham sunnah dan syariat malah menjauh dari kita. Bahkan kita diperintahkan disunnahkan agar mencocoki/menyesuaikan dengan adat setempat selama tidak menyelisihi syariat serta berbaur dan bermasyarakat, sebagaimana penjelasan ulama[2]

Contoh penerapannya:

-Ajaran agar tidak Isbal (pakaian di bawah mata kaki), sunnahnya memang setengah betis, akan tetapi jika masyarakat belum menerima (misalnya di kantor), maka bisa diturunkan sedikit potongannya, yang penting tidak dibawah mata kaki. Nanti kalau ikut pengajian baru terapkan sunnah tersebut

-Untuk pakaian gamis (bagi yang memilih ini adalah sunnah), jika masyarakat belum biasa, maka tidak mengapa menggunakan sarung, baju koko dan kopiah hitam ketika ke masjid. Jika masyarakat sudah biasa, maka tidak apa-apa

Maaf, mohon dipertimbangkan jika ke kampus umum (mau kuliah) atau ke kantor memakai pakaian gamis (pakistan) dan celana yang potongannya setengah betis (jika mereka sudah menerima tidak masalah), adapun kami lebih memilih memakai pakaian batik nusantara dan semisalnya

-Demikian juga jika ada acara-acara mubah bermanfaat di kampung atau tempatnya, misalnya kerja bakti, gotong royong atau rapat RT, maka dia yang paling semangat menghadiri jika memang tidak pernah hadir dalam acara yasinan dan tahlilan

-Bagi wanita tidak mesti memakai hijab dan jilbab hitam-hitam terus, bisa memakai warna lainnya asalkan tidak mencolok sekali dan mengundang perhatian. ‘Aisyah pernah memakai pakaian celupan ‘ushfur berwarna merah dan ada sahabat wanita yang memakai berwarna hijau.[3]

-Dan masih banyak contoh lainnya, memang perlu belajar banyak dan ilmu untuk mengetahui hal ini

Bahkan kita perlu berhati-hati agar tidak terjerumus dalam pakaian syuhrah, yaitu terlihat mencolok sekali berbeda dengan orang sekitarnya dan bisa menimbulkan rasa sombong (bisa jadi mungkin sombong karena sudah hebat bisa melaksanakan sunnah)[4]

Demikian semoga bermanfaat



@Laboratorium RS Manambai, Sumbawa Besar –  Sabalong Samalewa

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com



[1] Berikut penjelasannya:

أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ

“Islam dimulai oleh segelintir orang dari sedikitnya manusia. Kemudian Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan kembali surut. Sampai Islam (dan sunnah berada di dalam keterasingan kembali) dan ada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 177, syamilah)

[2] Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata,

أن موافقة العادات في غير المحرم هي السنة؛ لأن مخالفة العادات تجعل ذلك شهرة، والنبي صلّى الله عليه وسلّم نهى عن لباس الشهرة ، فيكون ما خالف العادة منهياً عنه.

“Mencocoki/menyesuaikan kebiasaan masyarakat dalam hal yang bukan keharaman adalah disunnahkan. Karena menyelisihi kebiasaan yang ada berarti menjadi hal yang syuhroh (suatu yang tampil beda). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpakaian syuhroh. Jadi sesuatu yang menyelishi kebiasaan masyarakat setempat, itu terlarang dilakukan. (Syarhul Mumti’ 6/109, syamilah)

[3] Misalnya hadits berikut:

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى الْمُؤْمِنَاتُ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا

Dari Ikrimah, Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh Abdurrahman bin az Zubair. Aisyah mengatakan, “Bekas istri rifa’ah itu memiliki kerudung yang berwarna hijau. Perempuan tersebut mengadukan dan memperlihatkan kulitnya yang berwarna hijau. Ketika Rasulullah tiba, Aisyah mengatakan, Aku belum pernah melihat semisal yang dialami oleh perempuan mukminah ini. Sungguh kulitnya lebih hijau dari pada pakaiannya.” (HR. Bukhari no. 5377)

[4] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ

“Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat” (HR. Abu Daud, hasan)


https://muslimafiyah.com/islam-akan-kembali-asing-tetapi-tidak-juga-sengaja-terlihat-asing-dan-mengasingkan-diri.html


__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota-SM]
Direkap tiap hari Ahad)

# Tiga Tanda Kebahagiaan dalam Pelajaran TAUHID

-Tujuan orang hidup semua sama, siapapun dia, di manapun, apapun usahanya, apapun pemikirannya yaitu mencari kebahagiaan

-Hanya saja patokan kebahagiaan itu berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan mengumpulkan dan menumpuk harta, ada yang bahagia menjadi artis bahkan kebahagiaan yang kita rasa aneh, misalnya bahagia menjadi waria yang “centil” dipinggir jalan

-Karenanya Islam memberikan patokan yang sangat sederhana untuk bisa bahagia

-TAUHID mengajarkan prinsip bahagia yang sederhana, syaikh Muhammad At-Tamimi menjelaskan,

إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

[1] Jika diberi kenikmatan maka ia bersyukur

[2] Jjika diuji dengan ditimpa musibah ia bersabar

[3] dan jika melakukan dosa ia beristigfar (bertaubat).

Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.”[1]



-Semuanya bisa bahagia, kaya-miskin, tua-muda, rakyat-pejabat, karena Allah maha Adil. Kebahagiaan itu di hati, bukan di harta ataupun dunia di tangan manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.”[2]

-Dalam Kitab TAUHID Al-Ushul As-Atsalatsah dijelaskan hakikat hidup adalah sebagaimana dalam surat Al-Ashr[3]

[1] saling menasehati kebenaran

[2] Saling menasehati akan kesabaran

-Imam Syafi’i  rahimahullahmenjelaskan bahwa seandainya Allah hanya menurunkan surat Al-Ashr saja, maka sudah mencukupi bagi manusia, beliau berkata:

لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

“Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhlukNya, sungguh telah mencukupi mereka.”[4]

-Akan tetapi perlu diperhatikan benar bahwa kebahagiaan bisa jadi kebahagiaan yang semu, ini yang dinamakan ISTIDRAJ, yaitu Allah berikan dunia dan kenikmatan pada dia, padahal hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya dan di akhirat akan mendapat siksaan yang pedih

Sebagaimana makna makar dalam ayat berikut

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.”  [Al-A’raf: 99]

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qor’awi menjelaskan,

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka  tidak merasa khawatir (tenang-tenang saja) dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”[5]

Semoga kita selalu bahagia dengan TAUHID dan manisnya iman



Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com



[1] Matan Qowa’idul Arba’

[2] HR. Bukhari dan Muslim

[3]  Allah Berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shaleh dan saling nasehat-menasehati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar.” (Surat al-‘Ashr : 1-3).

[4] Lihat Kitab Al-Ushul As-Tsalatsah karya syaikh Muhammad At-Tamimi

[5] Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi, cet.II, 1417 H


https://muslimafiyah.com/tiga-tanda-kebahagiaan-dalam-pelajaran-tauhid.html

__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota-SM]
Direkap tiap hari Ahad)

Shahih Fiqih: 📎 SIKAP BIJAK DALAM MEMANFAATKAN MEDIA SOSIAL

Antusiasmu terhadap medsos adalah sesuatu yang baik, namun waspadalah jangan sampai antusias ini menjadi pintu menuju kerugian seperti berikut :

  1. Engkau terhalangi dari kebaikan jika engkau menghabiskan sekian jam setiap hari untuk membuka medsos, namun engkau tidak menyisihkan waktu walaupun hanya seperempat dari waktu ini untuk menghafal al-Qur’an atau membacanya.
  2. Engkau terhalangi dari kebaikan jika ketika engkau bangun tidur pertama kali yang engkau lakukan adalah membaca berita di telepon genggammu, namun engkau tidak bersegera membaca dzikir bangun tidur, atau dzikir pagi, dzikir petang, dan dzikir-dzikir lainnya yang riwayatnya shahih dalam as-Sunnah, padahal itu merupakan benteng kokoh bagi seorang muslim dengan seizin Allah.
  3. Engkau terhalangi dari kebaikan jika engkau membaca ratusan artikel yang disebar setiap hari, namun engkau tidak mengkhususkan waktu untuk membaca sebuah kitab yang berisi ilmu-ilmu syari’at, atau untuk mendengar pelajaran salah seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terpercaya.
  4. Engkau terhalangi dari kebaikan jika engkau setelah mengucapkan salam yang mengakhiri shalat, engkau langsung mengeluarkan telpon genggammu untuk melihat apakah ada sesuatu yang baru, dan engkau melupakan dzikir-dzikir setelah shalat wajib yang riwayatnya shahih dalam Sunnah Nabi.
  5. Engkau terhalangi dari kebaikan jika ketika engkau menyambung silaturahmi, mengunjungi kerabatmu atau saudara-saudaramu, engkau hanya menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri dengan telepon genggammu, tanpa berbincang dengan mereka, sehingga kebersamaanmu dengan mereka seperti jasad tanpa nyawa, dan kunjunganmu hanya menyebabkan kerenggangan, tidak menimbulkan cinta dan keakraban.

Kita tidak mengingkari pentingnya media sosial, tetapi waspadalah jangan sampai berbagai aplikasi ini menjadi sebab terhalangnya kita dari kebaikan yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Duhai kiranya kita benar-benar memperhatikan dzikir-dzikir dan doa-doa harian serta membaca al-Qur’an secara rutin, seperti perhatian kita terhadap telepon genggam dan aplikasi-aplikasinya...

📚 Telegram : aalmakki

🌐 Telegram : ShahihFiqih 
➡ Klik bit.ly/1S3K8sW 

📱 Instagram : ShahihFiqih 
➡ Klik Instagram.com/ShahihFiqih

Andai Presiden Anda Adalah Setan Menjelma Manusia, Haruskah Anda Memberontak?

AbuRoihan:
Dr Muhammad Arifin Badri

Seburuk apapun pemimpin muslim, dan sebengis apapun pemimpin muslim, dan sezholim apapun pemimpin muslim, maka hanya ada satu cara untuk menghadapinya: BERSABAR.

Ya dengan bersabar, bersabar membenahi diri, membenahi keluarga, masyarakat yang ada di sekitar kita dan termasuk menghadai kebengisan para pemimpin muslim yang sedang diuji memimpin anda. 

Mengapa demikian? ya karena para pemimpin lahir dari perut masyarakat, yang salah satunya adalah anda. Kamarin anda adalah salah satu dari yang telah berperan melahirkan pemimpin yang sedang anda keluhkan . 

Kalau anda berkata: oooh, tidak, saya tidak memilihnya bahkan saya tidak ikut memilih sama sekali. 

Ya, bisa saja demikian, namun bukankah kemarin anda diam melihat kondisi yang ada di sekitar, atau minimal sedikit bermalas malasan menyikapi gerakan liberalisasi agam, sekulerisasi agama, penebar paham persamaan agama, tasawwuf sesat yang beranggapan bahwa semua agama sama, bahkan kalau sudah sampai jadi wali maka boleh ibadah di gereja atau di wihara atau bahkan dijadikan patung buda juga tidak mengapa?

Bersabar dalam mengamalkan islam dan mendakwahkanya, dan selanjutnya percayalah bahwa siapapun penguasa yang ada saat ini, tidak akan selamanya berkuasa, esok pasti Allah Ta'ala ganti dengan yang lainnya, dan bila anda telah membangun masyarakat dan calon calon pemimpin yang beriman niscaya yang Allah Ta'ala pilih menjadi pemimpin adalah  orang-orang yang beriman, berakhlaq, amanah, adil dan beradab. 

Bagaimana negri ini mau dipimpin oleh orang yang baik, kalau ternyata orang orang baik di negri ini dimusuhi dan dijauhi, yang menyeru kepada tauhid dimaki, yang menyeru kepada sunnah Nabi dimaki, yang mengajak pemurniaan Islam dianggap kolot, dan yang mengajak masyarakat untuk ngaji agama dianggap ndak paham waqi', yang menerapkan sunnah dengan memanjangkan jenggot atau memotong celana di atas mata kaki, atau mengenakan cadar dianggap ekstrim dan sosialis

Sobat, seburuk apapun pemimpin anda saat ini belum seburuk yangdigambarkan pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamberikut: 

 يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».
Sepeninggalku, akan ada pemimpin pemimpin yang enggan mengikuti petunjukku, dan enggan menjalankan keteladananku, dan akan ada dari mereka lelaki lelaki yang jiwanya bagaikan jiwa setan, sedangkan raganya raga manusia. Sahabat Huzaifah bin Yaman bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku bila aku menemui masa tersebut? 

Beliau menjawab: engkau tetap patuh dan taat kepada pemimpinmu, walaupun ia telah memukul punggungmu, dan merampas hartamu, patuh dan taatlah kepadanya. (Muslim)

Sobat! sadarilah, pemimpin anda adalah ujian atau hukuman bagi anda, kalau anda orang baik maka anda sedang diuji dengan orang buruk, sebagaimana dulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diuji dengan keberadaan tokoh tokoh Quraisy yang kafir lagi kejam, dan para ulama' semisal imam Ahmad, Imam Syafii diuji dengan pemimpin pemimpin yang kejam pula. 

Dan bila anda adalah orang yang banyak bergelimang dalam dosa, maka sadarilah bahwa bisa jadi pemimpin anda adalah bentuk dari teguran dan hukuman Allah kepada anda, karena itu jangan engkau lawan hukuman Allah dengan cara cara yang menyeleweng dari ajaran agama, agar tidak semakin lama dan panjang hukuman Allah kepada anda.

Ingat! Pemimpin sebengis Hajjaj bin Yusuf saja yang dengan darah dinginnya membantai para ulama', akhirnya Allah Ta'ala cabut nyawanya, dan digantikan dengan pemimpin lainnya, apalagi selain dia.

Dan Al Hamdulillah pemimpin kita muslim, doakan saja semoga esok hari semakin baik dan semakin dekat dengan rahmat Allah Ta'ala.

Ya Allah, limpahkanlah Rahmat-Mu kepada kami, dan berikanlah hidayah-Mu kepada pemimpin kami, dan jauhkanlah mereka dari pembisik pembisik busuk yang mengajaknya berbuat maksiat kepada-Mu. 
Amiin...