BUKANKAH SEMUA ITU INDAH?

Menikah itu luar biasa. Mengapa demikian? Karena dalam pernikahan itu pasti kita menemukan sesuatu
yang baru. Rasulullah SAW pernah menegaskan agar kita menyegerakan menikah tetapi tidak terburuburu. Dalam pernikahan itu pasti terdapat ibadah yang banyak sekali, seperti seorang suami dalam mendidik keluarganya; istri,dan anak-anaknya. Memperlakukan mereka dengan baik, memberikan nafkah ke mereka, mengajarkan agama, dll. Subhanallah... bukankah semua itu indah?

Seorang istri juga seperti itu, sebagai penghibur untuk suaminya, menjaga kehormatan keluarga, mendidik anak2nya, memberikan dorongan yang positif ke suaminya agar mau berjuang, dl. Subhanallah... bukankah semua itu indah?

Ketika kita memilih pasangan hiduppun, berhati-hatilah jangan kita terjebak pada kriteria yang duniawi. Karena kalau demikian, akan banyak kriteria yang kita maui. Ingatlah, yang sempurna yang kita mau maka kita pasti akan kecewa. Yang penting dia itu sholeh/sholehah, bertanggung jawab dan adil. Ini bisa kita lihat dari kesehariannya; perilkau dia, lihat dari gaya bicaranya, dll. Semua itu akan membentuk suatu
kepribadian. Orang yang takut kepada Allah pasti akan berbeda dengan yang lainnya. Ini bisa memberikan kepada kita gambaran apakah dia itu seorang yang baik atau tidak, sementara apakah ia akan menjadi istri atau suami yang baik. Itu akan teruji setelah menikah nanti. Seorang Istri itu dapat kita katakan baik kalau dia sudah menjalani hidup sebagai seorang istri. Begitupula sebaliknya dengan seorang suami. Tidak bisa katakan pacar itu baik jadi seorang suami atau istri karena dia belum pernah menjadi suami atau istri seseorang. Pernikahan itu adalah indah karena dari pernikahan itu halal-lah yang tadinya haram. Sucilah tadinya kotor.

Pernikahan adalah amanah yang luar biasa yang dianugerahi sang Kholiq kepada kita. Pahala-lah itu yang kita reguk dalam petalian hati (ta`liful qulub) suami/istri.

Subhanallah... bukankah semua itu indah?

ENGGAN BERJILBAB DENGAN ALASAN BELUM DAPAT HIDAYAH?


Banyak dari wanita muslimah yang belum mau (atau tidak mau?!) berjilbab berdalih: "Allah belum memberiku hidayah. Do'akan aku agar segera mendapat hidayah." Maka mereka ini telah TERPEROSOK ke dalam kesalahan yang NYATA. Kami ingin bertanya: "Bagaimana engkau TAHU bahwa Allah belum memberimu hidayah?"


Jika jawabannya: "Aku tahu."

Maka jawablah dua pertanyaan ini:

1. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah melihat ke dalam kitab yang tersembunyi (al-Lauhul Mahfuzh)? Bahwa dirimu telah ditulis sebagai orang yang belum atau tidak mendapatkan hidayah, dan dirimu telah tertulis sebagai orang yang celaka dan bakal masuk neraka?

2. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa dirimu telah diberitahu oleh orang lain atau makhluk lain? Bahwa dirimu tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah?

Jika kedua pertanyaan tersebut tidak mampu kau jawab, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah?

Duhai saudariku muslimah...

Pernahkah engkau mencoba untuk MENCATAT, berapa banyak dosa yang kau lakukan dengan "hati yang ringan" dalam setiap harinya hanya dengan SATU perintah Allah yang ENGGAN kau taati?

Siapkanlah alat tulismu dan cobalah kau catat mulai hari ini:

1. Ketika keluar rumah tanpa berjilbab, maka pada hakikatnya dirimu telah berbuat maksiat karena memperlihatkan aurat. Ada berapa orang yang bukan mahram yang lewat di depan rumahmu dan melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

2. Ketika berada di jalan menuju ke pasar atau kemana pun tujuanmu, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram yang melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

3. Ketika berada di tempat tujuan, tempat kerja atau apapun tempat yang kau tuju, ada berapa banyakkah orang yang bukan mahram melihatmu "memamerkan" aurat? Catat....

4. Demikian pula ketika menuju pulang ke rumahmu, ada berapa banyakkah orang yang melihat dirimu "memamerkan" aurat? Catat...

Maka cobalah kau jumlah, terhadap berapa banyak orangkah dirimu "mempertontonkan" aurat dalam sehari ini?

Lalu cobalah engkau membaca firman Allah Ta'ala berikut ini:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (Az Zalzalah: 8)

Siapakah di antara teman-temanmu atau keluargamu yang dapat membelamu ketika dirimu sudah terbujur kaku di dalam kuburmu?

Engkau menambah dosa dengan dosa, lalu dirimu mengharap tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli ibadah. Apakah kau lupakan Rabb-mu saat Dia mengeluarkan Adam dari Surga menuju dunia hanya karena disebabkan satu dosa..??

Ketahuilah wahai saudariku....

Hidayah (petunjuk) ada dua macam, yaitu hidayatut taufiq dan hidayatul irsyad.

1. Hidayatut Taufiq

Semata-mata datangnya dari Allah. Sebagaimana yang dimaksud dalam firman-Nya:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang YANG MAU menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)

2. Hidayatul Irsyad

Ini dimiliki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan setiap orang yang berdakwah ilallah, yang mengajak orang lain menuju kebaikan. Sebagaimana dalam firman-Nya:

…وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy Syura: 52).

Jenis hidayah yang ke dua ini (hidayatul irsyad), dimiliki oleh setiap orang yang berdakwah ilallah, karena orang yang berdakwah ilallah hanya memberikan sebuah KUNCI menuju jalan yang benar dan lurus kepada orang lain.

Adapun akhir perkaranya, semua kembali kepada Allah. Sehingga, pada akhirnya Allah-lah saja yang menentukan seseorang mendapatkan hidayah dari-Nya (hidayatut taufiq), ataukah tidak.

[Lihat kitab al Qaulul Mufid ‘ala Kitab at Tauhid (1/348-349)]

Maka yang menjadi masalah adalah, apakah seseorang yang sudah melihat datangnya hidayah mau menerima hidayah (petunjuk) tersebut ataukah dia LEBIH SENANG BERPALING menjauhi hidayah tersebut, lalu mengatakan, "Belum mendapat hidayah." (?!)

Orang-orang yang telah "melihat" datangnya hidayah tetapi TIDAK MAU mengikutinya, maka pada hakikatnya adalah orang-orang yang LEBIH MENYUKAI kesesatan daripada hidayah (petunjuk).

Hal ini telah digambarkan oleh Allah Ta'ala sebagaimana dalam firman-Nya:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

"Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.." (Al Fushshilat: 17)

Allah Ta'ala berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya." (Al-Baqarah: 196)

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Qashash: 50).

Allah Ta'ala berfirman:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلا عَظِيمًا

"Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)." (An Nisaa': 27)

Semoga bermanfaat.....

SETENGAH DIN

Apakah yang tercerabut dari dunia perempuan saat mereka menikah? Time for themselves kata beberapa orang teman. Benarkah? Beberapa komentar di atas boleh jadi tidak mewakili semua perempuan yang berubah status dari gadis menjadi istri, tetapi itu adalah kenyataan subyektif yang dia mengada walau belum tentu menjadi fenomena.

Kesepian di tengah kehangatan yang semula mereka harapkan saat menerima pinangan seorang laki-laki adalah kenyataan yang sering terjadi di awal-awal pernikahan, boleh jadi akan menghilang setelah penyesuaian-penyesuaian tetapi bisa juga menetap ketika tidak terjadi kompromi di antara pasangan suami istri.

Persepsi yang salah tentang pernikahan. Konsep setengah diin dipahami secara salah, bahwa dengan menikah kita telah sempurna.
Bukankah rasulullah mengatakan setelah mendapatkan setengah diin (menikah) maka kita harus bertakwa dengan setengahnya.

Maka, ketika kita menganggap bahwa setelah pernikahan kita menjadi sempurna, kita lalu secara bawah sadar akan menganggap bahwa: suami -dengan predikat shalehnya- pastilah seseorang yang mengerti hak-hak istri, bahwa istri -dengan predikat shalehahnya- pastilah seseorang yang mengerti hak-hak suami.

Maka berjalanlah kita dengan persepsi-persepsi kesempurnaan, harapan-harapan berlebihan yang
akhirnya patah ketika menemui kenyataan. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Just cry in the wilderness seperti yang dilakukan beberapa teman penganti baru, mengeluh pada saya, lalu bebannya menjadi terangkat? Walau kemudian ia potensial untuk muncul kembali? Atau melakukan perubahan dalam interaksi-interaksi kita dengan pasangan walaupun perubahan bukanlah sesuatu yang mudah?

Persepsi bahwa pasangan kita adalah sempurna sebab ia adalah seseorang yang shaleh (shalehah)
adalah sesuatu yang kurang tepat. Sebab tidak seorang pun dipersiapkan dengan matang untuk
mengarungi bahtera rumah tangga. Sebab semula kita dan pasangan adalah seorang yang asing maka kita tidak pernah tahu secara sempurna, kebiasaan-kebiasaannya, harapan-harapannya, kesukaankesukaannya secara persis. Maka salah satu yang bisa kita lakukan adalah embicarakannya kemudian mengompromikannya, let’s compromize!

Meskipun dalam persepsi para istri “cinta tak pernah meminta” tetapi untuk kompromi istri harus berlatih untuk meminta, katakan pada suami: “ Mas sayang, maukah memijit punggungku, rasanya pegal sekali…” Semoga ketika mendengar permintaan ini, para suami ingat bahwa sesungguhnya tugas-tugas rumah tangga (mencuci, memasak, mengepel dll) bukanlah kewajiban istri, tetapi itu dilakukan semata-mata karena cinta. Semoga para suami ingat bahwa memijit punggung istri tidak akan mengurangi keqowamannya, bahkan mungkin menambah sebab cinta adalah hal yang paling mendasar dalam legitimasi kepemimpinan setelah kapabilitas. Semoga suami ingat bahwa dengan meminta seperti ini istri sedang mengubah persepsinya bahwa jika cinta tentu tak perlu diminta,

Maka suami akan menyambut permintaan istri dengan empati: “Mari sini, iya Mas tahu, pasti capek
mengerjakan semuanya sendirian, mana khadimat pulang…” Bagi para istri, meski tampak sangat ideal
bahwa seseorang yang kita cinta (suami) menjadi sempurna sebagaimana bayangan-bayangan kita
sebelum menikah, tetapi demi sebuah kebutuhan asasi seorang pria untuk dikagumi, dipercayai, dihargai, dan disetujui janganlah pernah mewajibkan diri untuk mengubah para suami, karena mereka akan merasa dilecehkan dan tidak dihargai. Kalaupun ada kebiasaan suami yang begitu buruk, cobalah meminta dengan kata-kata yang penuh penghargaan, “Maukah Mas…”, “Bersediakah Abang…” atau secara konsisten memberikan contoh tanpa kata-kata. Sebab bagi umunya laki-laki adalah sebuah aib jika ia tampak salah dan lemah dimata kekasihnya.
Jika demikian… Setengah diin yang disuruh-Nya kita bertaqwa sedang kita upayakan. Dalam rentang jarak perkawinan yang tak terpisahkan. Ever and after.

BUATMU YANG GUNDAH

Subhanallah, Inspiration from my wife. “SLI HARNINGSIH”, Yang selalu ada dan menghuni hati. “ALLAH, jadikan Sebagai penghias rumahtanggaku, dan jadikan kelak Ia disurga sebagai bidadariku atas izinMu ya ALLAH.

Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak Menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.." mungkin… aku tak sebaik yang aku pikir, tak juga sebaik yang orang pikir.. tapi tak ada salahnya kita saling berbagi untuk kebaikan…

Menikah, bukan sekedar mensahkan hubungan intim antara kedua manusia berlain jenis.
Menikah, bukan sekedar tinta di atas kertas yang ditanda tangani di KUA.
Menikah, bukan dunia yang isinya hanya seksual dan kepuasan birahi.
Menikah, bukan bicara soal siapa Tuan dan siapa Pelayan.
Menikah, bukan sekedar bicara kau dan dia, tetapi bicara soal keluarga kalian.
Menikah, bukan sekedar bicara cinta dan kasih dan rayuan.
Menikah bukan bermain dan permainan.

Menikah, menyangkut soal pendidikan dan budaya rumah tangga, anak dan keturunan,
Menikah, berarti bicara soal kerjasama, musyawarah dan prioritas.
Menikah, berarti bicara soal perlindungan dan kesejahteraan.
Menikah, berarti bicara soal pengelolaan ekonomi dan rizki.
Menikah, berarti hidup bersama seseorang selamanya.
Menikah, berarti siapa bertanggung jawab kepada siapa.
Menikah adalah 'Ibadah
Menikah, bicara banyak hal - dan tidak bicara banyak hal pula.

Menikah hendaknya ia adalah orang yang 'siap', telah baligh (dewasa) baik secara fisik maupun mental, dimana ia akan siap dengan segala konsekuensinya, yang mana ini tidak ditunjukkan dengan titel akademik, atau apapun. Dan memang, kesiap sediaan itu tak akan pernah datang utuh, kecuali saat ini, saat kita merasa siap dengan bekal yang proporsional. Menunggu lelaki datang turun dari langit, sama saja menggantungkan impian pernikahan kita terlalu tinggi sehingga berpotensi menjadikannya sebagai puing-puing yang jatuh ke tanah. Pernikahan, harus dihadapi dengan nyata. Tidak dengan bayang-bayang awan gelap yang kan turun di musim kemarau. Gunakan payung mu, dan jangan berharap atau bertaruh untuk masa depan nanti. Namun jika tidak sanggup bertanggung jawab untuk diri sediri, maka hidup sendirian masih lebih baik daripada menyiksa hidup dengan hidup dengan orang lain.

Temanku..
Teguhkan hati untuk ALLAH… minta padaNya.. karena Cuma DIA yang bisa memberi keajaiban.. tapi mesti ingat, ketika memilih jodoh.. harus luruskan niat.
Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan. Jangan kemudian Engkau memilih jodoh dengan alasan “Adikku sudah mau menikah.. Aku ga mau keduluan sama adikku, Aku harus menikah lebih dulu dari Adikku” dan akhirnya.. karena niat kita yang salah.. kita akan dapat jodoh yang salah juga. Luruskan niat untuk menikah.. bahwa menikah karena ALLAH, karena ingin melengkapkan SETENGAH DIN yang diperintahkan ALLAH.

Jangan berfikit tentang umur… tapi siapkah Engkau untuk menjadi istri? Nanti, saat Engkau benar2 siap, ALLAH pasti akan memberikan jodoh buat Engkau..

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).

�Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui�� (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Istri ku juga mengalami saat-saat ini, ketika itu umurnya 29 tahun dan adiknya akan menikah tanggal 30 juli 2007, berat rasanya ketika mendengar adik akan menikah, sedang lelaki juga tak ada yang dekat dengan nya.. tapi ALLAH Berkehendak. ALLAH memberikan lelaki high quality (PEDE MODE ON). Dan tanggal 13 Juli 2007 menikah. Tak akan percaya bukan, ketika hati sudah patah arang, karena tak mungkin bisa lebih dulu menikah dari adik, tapi ternyata ALLAH maha berkehendak, kami menikah lebih dulu.

Jalanin hidup karena ALLAH, semuanya, awali kebaikan hanya karena ALLAH, dan jangan pernah lalai, “KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA”

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. “Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).

"Ya Allah, jadikanlah Temanku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin Ia menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHNYA KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKNYA YANG LEBIH BAIK MENURUTMU YA ALLAH.. Amiin"

Semoga ini bisa membuat hatimu lebih baik.

BERANI MENIKAH

Otak kiri terlalu rasional, sedangkan otak kanan irasional. Semakin orang pintar terkadang semakinrasional. Agar punya pengalaman yang unik dalam pernikahan, menikahlah dengan yang beda suku dan daerah asal. Karena akan sangat unik. Kalau terjadi pertengkaran tidak akan lari ke mertua.

Dengan menikah jauh itu, minimal orang semiskin-miskinnya pun akan naik bis antar kota antar propinsi.Jangan terlalu rumit-rumit menikah itu, permudahlah.

Hati-hati yang uangnya terlalu banyak dan pendidikannya terlalu tinggi, biasanya perhitungannya terlalu matematis. Bila menikah itu tidak cocok justru itu menarik karena ada tantangannya. Bila menikah itu kurang cinta, justru itu luar biasa paling menarik. Karena banyak yang pacaran lama tapi akhirnya putus.

Nikah itu tinggal bersabar dan bersyukur. Jangan terlalu banyak rumus dalam pernikahan. Maka jika ingin siap menikah, sabarnya harus sangat bagus dan syukurnya pun harus sangat bagus. Orang yang sangat bagus adalah orang yang dalam posisi sabarnya sangat baik dan syukurnya sangat baik, karena dia akanbersabahat. Karena nanti masalah akan selalu ada. Kalau sabarnya sangat baik, syukurnya sangat kurang, nanti pasif terhadap masalah. Kalau sabarnya sangat kurang, syukurnya sangat baik, nanti pasif pula terhadap masalah.

Sedangkan, bila sabarnya sangat kurang syukurnya sangat kurang, maka reaktif terhadap masalah. Bila kita siap menikah mari kita nikmati segala kekurangan pasangan kita, karena latar belakangnya yang berbeda. Yang penting kita tingkatkan rasa sabar kita dan rasa syukur kita. Tidak ada masalah itu. Tidak rumit-rumit amat, biasa saja.

Bila kita memikirkan menikah itu susah, maka susah betulan. Bila kita memikirkan bahwa menikah itu mudah, maka Allah akan memudahkannya, sebagaimana hadis qudsi "Allah itu sebagaimana persangkaanhamba-Nya".

Keberanian itu penting. Banyak laki-laki yang minder tidak berani karena tidak ada pekerjaan, maka pihak wanita jangan terlalu menonjolkan optimalisasi dirinya.

Dan kaum wanita pun harus berani menyatakan.Permasalahannya adalah yang penting gerak, bukan hanya siap-siap saja. Oleh karena itu proklamasikandiri kita bahwa kita adalah orang yang pemberani untuk menikah.