Hasil Tes DNA Bisa Jadi Tidak Diterima Dalam Hukum Islam (nasab syar’i)

-Di zaman ini untuk menentukan anak siapa bisa digunakan pemeriksaan DNA, yang pemeriksaan ini cukup valid

-Dalam Islam dikenal: nasab syar'i  dan nasab biologis

-Nasab syar'i adalah nasab secara agama dan diakui oleh agama, sedangkan nasab biologis adalah nasab keturunan. 

-Hukum waris , mahram, hak wali dll yang diakui dan teranggap adalah nasab syar'i

-Agar jelas perhatikan contoh berikut: Jika menikah dengan sah, maka anak adalah itu adalah nasab syar'i dan nasab biologis

-Nasab biologis tapi bukan nasab syar'i:
Jika seseorang berzina dan hamil kemudian menikah kedua pasangan zina tersebut, makan anak  tersebut adalah anak zina, nasab biologisnya kepada kedua orang tuanya, tetap nasab syar'inya tidak dinasabkan kepada bapak biologisnya

-Nasab syar'i tapi bukan nasab biologis:
Jika seseorang wanita bersuami berzina dengan laki-laki lain, kemudian  hamil dan tidak ketahuan, maka anak tersebut nasab syar'i kepada suami yang sah dan nasab biologisnya,

Atau ketahuan oleh suaminya akan tetapi suami tidak menolak dan tidak mempermasalahkan (misalnya tidak mengadukan ke qhadi dan  tidak menuduh zina istrinya). Karena ada hadits: (hukum asal) anak dinisbatkan (nasab syar'i) kepada pemilik ranjang (suami)

-Nah, pemeriksaan DNA misalnya pada kasus perzinahan hanya menentukan nasab biologis saja. Dengan kasus diatas bisa saja tidak diterima nasab syar'inya dalam Islam. Selama suami tidak mengajukan permasalahm zina ke qadhi.

Dalam hadits,

“Anak yang lahir adalah bagi pemilik kasur (dinasabkan kepada suami yang sah), dan seorang pezina tidak punya hak (pada anak hasil perzinaannya).”[2]

Baca selengkapnya ا:

http://muslimafiyah.com/hasil-tes-dna-tidak-diterima-dalam-hukum-islam-nasab-syari.html

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota]
Direkap tiap hari Ahad)                        
[21:37, 3/28/2017] Muslimafiyah Brodcats: # "Ghuluw"/Berlebihan Terhadap Orang Shalih


Ghuluw"/Berlebihan Terhadap Orang Shalih

#IndonesiaBertauhid

-Hal ini dibahas dalam pelajaran TAUHID, bagaimana setan memiliki trik yang "cukup pintar" agar manusia terjerumus dalam kesyirikan

-Setan memanfaatkan sikap berlebihan ini,
Yaitu terlalu berlebihan mengkultuskan, memuji berlebihan sampai taraf hak-hak ketuhanan

-Anda Tahu siapakah sebenarnya  berhala yang disembah Kafir Quraisy dahulunya? Ternyata mereka adalah orang-orang shalih dahulunya

misalnya Latta yang disebut dalam Al-Quran, Ia dahulunya adalah orang shalih yang sering membagikan roti bagi jamaah haji

-Begitu juga berhala pertama di muka bumi yang disembah oleh kaum nabi Nuh, mereka adalah orang-orang yang shalih

Allah berfirman,

” Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata: “Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-
tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr .” (QS Nuh: 23)

-Iya benar, Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr adalah orang shalih dahulunya yang kemudian disembah

-Kok bisa disembah? Ibnu Abbas ahli tafsir menceritakan, bagaimana terjadinya kesyirikan PERTAMA KALI di muka bumi:

1. Ketika orang shalih ini meninggal, kaumnya mersana kehilangan sekali

2. Akhirnya datang bisikan setan agar membuat gambar dan patung orang shalih tersebut, bukan untuk disembah tetapi untuk mengingatkan agar kembali semangat beribadah

3. Lalu datanglah generasi mereka selanjutnya, maka setan membisikkan bahwa patung ini memiliki keistimewaan semisal bisa memberikan berkah dll

4. Lalu datang generasi selanjutnya yang makin jauh dengan ilmu agama, akhirnya Patung-patung tadipun disembah sebagai berhala

Selengkapnya baca ا:
muslimafiyah.com/ghuluwberlebihan-terhadap-orang-shalih.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota]
Direkap tiap hari Ahad)

Ciri Dakwah Ahlus Sunnah Adalah Terdepan dan Memprioritaskan Mendakwahkan Tauhid

#IndonesiaBertauhid

Seseorang yang berjiwa hanif berusaha mencari jalan beragama atau metodologi beragama (manhaj) yang benar. Beberapa orang mungkin ada yang bingung mana manhaj yang benar? Semua mengaku ahlus sunnah, jadi mana yang harus saya ikuti?

Salah satu cirinya adalah terdepan dan memprioritaskan dakwah tauhid dan pemurnian aqidah umat. Dari semua materi dakwah yang berusaha disampaikan, maka tidak lupa dengan dakwah tauhid yaitu mengesakan hak-hak khusus Allah dalam ibadah serta berusaha mengenalkan Allah kepada hambanya sedekat-dekatnya dengan mengenalnya melalui tauhid asma wa sifat.

Inilah metode dakwah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, perintah beliau kepada Muadz Bin Jabal tatkala berdakwah ke Yaman agar mendakwahkan tauhid dahulu,

"Hendaklah yang pertama kali engkau serukan adalah syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. ” (HR. Muslim). 

Memang semua materi dakwah penting, tetapi yang tetap menjadi prioritas serta perhatian adalah dakwah tauhid. Belajar shalat bisa jadi sekali saja sudah paham dan dipraktekkan, tetapi belajar  tauhid itu seumur hidup karena tauhid terkait dengan keimanan dan amalan hati, semisal cinta, takut, berharap dan sebagainya.

Misalnya lewat kuburan masih takut, aqidah kita mengajarkan orang mati sudah tidak bisa ke alam dunia, ketika belajar mungkin tidak takut, tapi berjalan waktu dan terpengaruh film, bisa jadi takut lagi lewat kuburan
maka belajar tauhid itu seumur hidup, kaorena ini rasa takut yang tidak pada tempatnya dan tidak akan muncul pada orang yang tauhidnya bagus.

Baca selengkapnya ا:

http://muslimafiyah.com/ciri-dakwah-ahlus-sunnah-adalah-terdepan-dan-mempriotitaskan-mendakwahkan-tauhid.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota]
Direkap tiap hari Ahad)

Mengapa Allah Menggunakan Kata Ganti Jamak "Kami"?



Sebagaian kaum muslimin mungkin ada yang bertanya mengapa pada beberapa ayat Al-Quran Allah menggunakan kata ganti jamak (نحن/nahnu) "kami", padahal Allah Maha Esa

Jawabannya:
Dalam bahasa Arab, penggunaan kata jamak untuk tunggal itu bermakna pengagungan dan Allah berhak dengan keagungan ini. Bukan artinya Allah atau tuhan itu banyak

Berbeda dengan bahasa Indonesia, penggunaan kata "kami" untuk tunggal bermakna "merendah atau menghormati"

Misalnya pak RT ketika memegang jabatan:
"Kami memegang amanah ini ...

Dalam kamus Arab Al-Mu'jam dijelaskan makna lafadz "kami"

ﻧﺤﻦ ﺿﻤﻴﺮ ﻳﻌﺒﺮ ﺑﻪ ﺍﻻﺛﻨﺎﻥ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺍﻟﻤُﺨْﺒِﺮﻭﻥ ﻋﻦ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ، ﻭﻗﺪ ﻳﻌﺒِﺮ ﺑﻪ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻋﻨﺪ ﺇﺭﺍﺩﺓ ﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ

"Kata "kami" bisa digunakan untuk dua orang atau jamak untuk berbicara mewakili mereka. Terkadang juga (kami) disebutkan dalam bentuk tunggal untuk maksud pengagungan." [1]

Demikian juga penjelasan dan fatwa ulama, dalam fatwa Al-Lajnah  Ad-Daimah:

ﻣﻦ ﺃﺳﺎﻟﻴﺐ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﺃﻥ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻳﻌﺒﺮ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﻀﻤﻴﺮ " ﻧﺤﻦ " ﻟﻠﺘﻌﻈﻴﻢ

"Termasuk ungkapan dalam bahasa Arab yaitu seseorang "tunggal" menyebut dirinya dengan kata ganti jamak "kami" untuk pengagungan" [2]

Bisa jadi maknanya mencakup jamak dari makna nama-nama Allah yang banyak (jamak). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,

ﺻﻴﻐﺔ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺗﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺴﺘﺤﻘﻪ ، ﻭﺭﺑﻤﺎ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺎﻧﻲ ﺃﺳﻤﺎﺋﻪ

"Lafadz  jamak bermaksud pengagungan sesuai dengan keagungan Allah dan bisa juga menunjukkan makna nama-nama Allah.[3]

Sangat tidak tepat mengatakan lafadz jamak ini bahwa Allah itu banyak dan berbilang, karena jelas bahwa Allah itu maha Esa.

ﻭَﺇِﻟَٰﻬُﻜُﻢْ ﺇِﻟَٰﻪٌ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ۖ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَٰﻦُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢُ

Dan ilah-mu adalah ilah Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Dia Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. [al-Baqarah/2:163]

Demikian semoga bermanfaat

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:

[1] Kamus Al-Mu'jam Al-Wasith

[2] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 4/143

[3] Aqidah At-Tadrumiyah hal. 75

https://muslimafiyah.com/mengapa-allah-menggunakan-kata-ganti-jamak-kami.html

__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota]
Direkap tiap hari Ahad)

Aku (Engkau) Bukanlah Musa dan Engkau (Aku) Juga Bukanlah Fir’aun

Hukum asalnya nasihat dan dakwah  adalah lemah-lembut,

Kepada orang selevel Fir’aun saja harus berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kita akan mendakwahkan saudara kita seiman?. Maka gunakanlah kata-kata yang lembut dan bijaksana lagi penuh hikmah.

Berkata-kata kasar, tidak layak keluar dari lisan seseorang yang mengaku muslim Renungkan firman Allah Ta’ala:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى ْ فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. makaberbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang LEMAH-LEMBUT, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. [At-Thoha:43-44]

JELAS… AKU (ENGKAU) TIDAK SEBAIK NABI MUSA DAN ENGKAU (AKU) TIDAK SEBURUK FIR’AUN

Tidak layak bagi seseorang yang mengaku muslim tetapi suka dan hobi berdebat dan berkata-kata kasar, apalagi ditambah dengan bumbu caci-maki bahkan kotor. Padahal ajaran Islam tidak mengejarkan hal seperti ini. 

Ajaran islam mengajarkan berdebat (baca: berdiskusi) dengan tujuan yang baik yaitu menginginkan kebaikan kepada yang diajak berdiskusi, mengantarkan dan memberitahukan kebenaran. Jika diterima Alhamdulillah, jika tidak, mereka masih saudara se-Islam yang berhak mendapatkan hak-hak persaudaraan, bukan langsung dimusuhi.

Terkadang dalam berdebat ia baru hanya tahu hukumnya saja, tidak mengetahui dan menghapal dalil serta tidak tahu metode istidlal[mengambil dalil]. Jadi yang ada hanya berdebat saling “ngotot” tentang hukum sesuatu. apalagi mengeluarkan katakata yang kasar sampai mencaci-maki dan menyumpah-serapah.

Memang ada yang sudah hapal dalilnya dan mengetahui metodeistidlal , akan tetapi ia tidak membaca situasi dakwah, siapa objek dakwah, waktu berdakwah ataupun posisi dia saat mendakwahkan.

Dan ada juga yang berdebat karena ingin menunjukkan bahwa ia ilmunya tinggi, banyak menghapal ayat dan hadist, mengetahui ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya.

Memang saat itu kita menang dalam berdebat karena manhaj ilmiyah. Akan tetapi tujuan berdakwah dan nasehat tidak sampai. Orang tersebut sudah dongkol atau sakit hati karena kita berdebat dengan cara yang kurang baik bahkan menggunakan kata-kata yang kasar. Hatinya tidak terima karena merasa sudah dipermalukan, akibatnya ia gengsi menerima dakwah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ،

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. [HR. Muslim 55/95]

Yang dimaksud dengan nasehat adalah mengkhendaki kebaikan. Jadi bukan tujuannya menunjukan kehebatan berdalil dan menang dalam berdebat.

Mengenai suka berdebat para nabi dan salafus shalih sudah memperingatkan kita tentang bahayanya. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ “

 “Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [Syu’abul Iman: 8076 Al-Baihaqi, cetakan pertama, Darul Rusdi Riyadh, Asy-syamilah]

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com


http://muslimafiyah.com/aku-bukanlah-musa-dan-engkau-juga-bukanlah-firaun.html

__
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah
Broadcast WA muslimafiyah: 0895351217650
(Simpan nomornya, Kirim Pesan via WA ا:
[Nama Lengkap-Kota]
Direkap tiap hari Ahad)